Sunday, November 13, 2011
Friday, November 4, 2011
Investasi Jabon
Mengapa harus jabon ? Menanam Jabon adalah salah satu alternatif Investasi dalam bidang pertanian.Dengan jangka waktu 5-6 tahun anda akan mendapatkan hasil yang memuaskan.
Hitungan secara simplenya :
1 ha lahan (milik sendiri/sewa)
masa budidaya sampai panen 5-6 tahun
Estimasi harga jual/m3 : 1.100.000,-
Lahan 1 ha jarak tanam 2x3m = 1.100 pohon
rata2 perpohon bisa menghasilkan 1,5 m3
1.100 pohon x 1,5 m3 = 1.650 m3 x Rp.1.100.000,- = Rp.1.815.000.000,- (laba kotor belum di kurangi cost produksi)
Mari kita investasi dengan menanam Jabon,selain membuat anda bebas finansial juga ikut membantu program konservasi lingkungan.
Dengan semboyan 1 orang menanam 1 pohon mari jaga dan rawat bumi ini sebagai warisan anak cucu kita .
Yuk berkebun Jabon.....mumpung baru turun hujan.
Salam
Monday, October 24, 2011
Ternak Domba
Domba merupakan salah satu jenis ternak yang cukup digemari masyarakat, namun skala usahanya masih terbatas dengan sistem pemeliharaan dan perkembangbiakan secara tradisional. Domba sudah lama diusahakan oleh masyarakat sebagai usaha sampingan atau tabungan karena pemeliharaan dan pemasaran hasil produksi (baik daging, susu, kotoran maupun kulitnya) relatif mudah. Meskipun secara tradisional telah memberikan hasil yang lumayan, jika pemeliharaannya ditingkatkan (menjadi semi intensif atau intensif), pertambahan berat badannya dapat mencapai 50-150 gr/hari. Ada tiga hal pokok yang harus diperhatikan dalam usaha ternak domba, yaitu : harus mengenal bangsa domba dan ciri-ciri domba untuk bibit, bahan pakan dan cara pemberiannya, serta tata laksana.
Pemeliharaan ternak domba sangat mudah karena tidak membutuhkan keterampilan yang khusus, sehingga peternak baru pun mampu secara cepat belajar manajemen pemeliharaan. Usaha ternak di pedesaan tidak memerlukan modal yang besar, karena dapat dilakukan dengan sistem gaduhan (bagi hasil anak), ataupun dengan pembelian induk yang tidak terlalu mahal bila dibandingkan dengan ternak besar. Penyediaan sumber pakan hijauan yang ada di pedesaan umumnya cukup berlimpah, seperti rumput lapangan, leguminosa, limbah pertanian (limbah sayuran, tanaman pangan, perkebunan), dan lainnya. Selain itu, dalam berusaha ternak kambing tidak perlu memiliki lahan yang luas, hanya diperlukan kandang (sesuai dengan jumlah yang akan dipelihara), pakan yang dapat diambil dari kebun, lapangan umum atau digembalakan di lahan-lahan umum (lapangan, di perkebunan, dan tempat lainnya).
Selamat mencoba ....... semoga sukses
Monday, September 26, 2011
Membuat Awetan Rumput untuk Pakan Ternak
Hay adalah hijauan makanan ternak yang diawetkan dengan cara dikeringkan di lapangan atau di tempat tertutup, dengan panas matahari atau buatan, mempunyai kandungan kering (BK) 80-85%, warna tetap hijau dan berbau enak.
Prinsip pembuatan hay adalah menurunkan kadar air hijauan secara bertahap tetapi berlangsung secara cepat. Tujuan menurunkan kadar air adalah agar sel-sel hijauan tersebut cepat mati dan mencegah pertumbuhan mikroorganisme. Dengan demikian tidak terjadi proses kimia baik berupa respirasi maupun fermentasi yang dapat menghasilkan panas. Pada hijauan, keadaan ini akan dicapai pada bahan kering 80-85%. Panas yang dipakai dapat berasal dari sinar matahari atau buatan, dengan demikian proses pengeringan sangat dipengaruhi oleh keadaan cuaca.
Keuntungan Hay
- Menghemat biaya peralatan
- Lebih cepat prosesnya
- Dapat dikontrol kerusakan fisiknya, karena mudah terlihat
- Ternak tidak perlu penyesuaian cara makannya, seperti pada silase
Kerugian
- Sangat tergantung cuaca
- Kerusakan gizinya lebih tinggi (caroten), terutama bila cuaca jelek.
Proses yang terjadi pada saat pengeringan
Pada proses penumpukan hijauan akan terjadi proses-proses sebagai berikut :
a. Proses respirasi
Hijauan yang segar masih mampu mengadakan respirasi. Respirasi ini akan mengambil oksigen dari luar dan akan menghasilkan air serta panas. Kerusakan gizi pada tahap ini bisa mencapai 10%
b. Proses fermentasi
Bakteri yang berpengaruh dalam proses fermentasi adalah dari jenis bakteri thermofilik, yang akan menghasilkan panas. Apabila tumpukan hijauan tidak sempurna, kerusakan yang disebabkan oleh bakteri dan enzim tersebut bisa mencapai 5-10%.
c. Reaksi kimiawi
Dalam proses pembuatan hay mungkin akan terjadi suatu reaksi kimiawi, akibat dari reaksi ini akan timbul panas yang tinggi, sehingga hasil dari hay akan berwarna coklat kehitaman.
Cara pembuatan Hay
a. Pengeringan di lapangan
Rumput yang dipotong rata-rata berkadar air 80%, harus dikeringkan sampai kadar air antara 16-24%. Pengeringan ini sangat tergantung pada sinar matahari, angin, hujan, temperatur, dan kelembaban udara. Prinsip pengeringan di lapangan adalah hijauan yang baru dipotong, segera ditebarkan di atas tanah yang datar, setipis mungkin. Setiap 1-2 jam dibolak-balik dan diaduk. Apabila cuacanya buruk/hujan, sebaiknya hay dikumpulkan jadi satu, ditumpuk dan ditutup dengan plastik bila perlu, baru setelah cuacanya baik, hay ditebarkan kembali. Pengeringan dihentikan bila BK hay sudah mencapai 80-85%. Pengeringan dapat dpercepat apabila pada waktu siang hari ditebarkan, sedangkan pada malam harinya digulung, untuk menghindari penyerapan air pada waktu malam hari.
Di daerah panas, daun bisa hancur dalam waktu 2-3 hari, terutama untuk golongan legume. Di samping warna yang berubah, protein, vitamin A dan E juga mengalami penurunan, dengan demikian kualitas hay yang dihasilkan menjadi rendah. Untuk mengatasi hal tersebut di atas, telah dibuat beberapa model alat pengeringan yang sederhana, mengingat bahwa pengeringan di lapangan/di atas tanah terbukti sulit untuk mempertahankan kualitas.
b. Pengeringan dengan menggunakan para-para
Bila cuaca buruk, pengeringan dengan menggunakan para-para dapat menbantu mempertahankan kualitas hay. Hijauan dibiarkan terurai di lapangan selama 1-2 hari (tergantung cuaca) dengan tujuan mengurangi kandungan airnya/melayukan. Pengeringan selanjutnya dilakukan dengan meletakkannya di atas para-para sampai BK-nya mencapai 80-85%. Pengeringan ini biasanya berlangsung 3 sampai 6 minggu tergantung cuacanya., walaupun demikian nilai gizinya lebih tinggi dibandingkan dengan bila dikeringkan dengan cara ditebar di lapangan.
c. Pengeringan dengan panas buatan
Pengeringan dengan panas buatan dimaksudkan agar proses pengeringan lebih cepat dan kemunduran gizi yang disebabkan oleh cuaca bisa dihindari, di samping itu juga dapat dipakai di segala waktu/musim, tetapi memerlukan biaya yang sangat mahal.
Prinsip pengeringan dengan panas buatan adalah hijauan segar dikeringkan pada tempat khusus dengan temperatur 100°C-250°C. Pengeringan dihentikan apabila kadar BK sudah mencapai 80-85%.
d. Pengeringan dengan membiarka hijauan menua/standing hay
Untuk mengatasi kekurangan hijaun makanan ternak dapat juga dibuat standing hay, yaitu mengusahakan sebagian lahan atau kebun rumput dan membiarkan rumput tersebut berbunga, menua, dan akhirnya menjadi kering dengan sendirinya. Kualitas hay yang dihasilkan jelas jauh lebih rendah dibandingkan dengan cara pengeringan yang lain.
Wednesday, September 21, 2011
Sunday, August 28, 2011
Ternak Domba
Proyek peningkatan Pendapatan Petani melalui Inovasi.
Tujuan : 1. Membantu mengatasi " Poor Farmer income" melalui proyek pengembangan.
2. Tercapainya swasembada pangan dan daging
3. Mengurangi urbanisasi dan TKI
Tujuan : 1. Membantu mengatasi " Poor Farmer income" melalui proyek pengembangan.
2. Tercapainya swasembada pangan dan daging
3. Mengurangi urbanisasi dan TKI
Subscribe to:
Comments (Atom)











